Zikir pintu rejeki

zikir rejekiilmupeletdanpengasihan.com – Zikir tersebut intinya ialah mengingat Allah masing-masing saat. Bukan melulu komat-kamit menyimak serangkaian ucapan-ucapan dalam bahasa Arab namun hendaknya mesti mengerti makna atau maknanya.

Zikir itu ialah jalan pintas atau jalan termudah guna mendekatkan diri untuk Allah. Karena zikir tidak terbatas ruang dan waktu. Setiap ketika kita dapat melakukannya. Bukan melulu setelah shalat fardhu bahkan saat menantikan maupun di sela-sela kegiatan kerja kita dapat berzikir.

Berzikir dan berdoa ialah amalan Ibadah yang disukai Allah. Karena tersebut sangat disarankan kepada anda kapan saja dan di mana saja, pada ketika apa juga usahakan kita tidak boleh lupa berzikir untuk Allah. Tidak peduli panas, hujan, mendung, atau panas terik, zikir tetap dianjurkan.

Intinya, tidak boleh sampai anda lalai dari berzikir untuk Allah Swt. Memang tidak ada peraturan bahwa zikir mesti ditambah saat kucuran rezeki mampet atau saat utang bertumpuk. Bahkan zikir usahakan anda lakukan malah di masa-masa senang sebagai rasa syukur saya dan anda selalu mengingat Allah. Intinya lagi, bibir harus tidak jarang kali basah dengan lafaz-lafaz Zikir, yakni kita senantiasa berzikir di mana saja dan kapan saja.

Zikir Dan Doa Pembuka Rejeki

Rezeki Allah itu gejala yang tidak bisa dihitung dengan hitungan matematika sebab sifatnya yang abstrak. Bukan wewenang kita guna menilai berapa tidak sedikit rezeki yang anda terima, namun itu ialah wilayahnya Allah. Kita melulu memohon dan memantaskan diri guna menerima.

Jangan Berputus Asa dari Rezeki

Allah Swt. berfirman:
Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan andai mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus harapan lagi putus harapan.” (QS. Fushilat (41): 49).

Janganlah berputus harapan pada rezeki Allah, pesan Imam Ahmad bin Hambal. Pesan imam mi bukan tanpa bukti. Diceritakan tentang cerita Rasulullah Saw tentang seekor ulat yang hidup di dasar laut atas rezeki Allah Swt. Ketika itu, Rasulullah sedang menyelenggarakan acara walimatul ‘ursy dengan seorang perempuan sebagai istrinya.

Saat semua sahabat yang diundang menonton makanan yang dijamukan Rasulullah, mereka membincangkan dan mana Rasulullah bakal menghidupi istri-istrinya. Maklum, jamuan walimahnya saja begitu sederhana

Usai shalat berjamaah, Rasulullah kemudian bercerita mengenai masalah rezeki untuk para sahabatnya yang diundang itu. “ini cerita yang dikatakan oleh MalaikatJibril, boleh aku bercerita?” tanya Nabi. Para kawan pun langsung mengiyakan dengan sarat antusias.

Lalu, berceritalah Nabi Saw. mengenai Nabi Sulaiman yang sedang shalat di ambang pantai. Sulaiman menyaksikan seekor semut berlangsung di atas air sambil membawa daun hijau sambil memanggil katak. Setelah itu, muncullah katak dan menggendong semut mengarah ke dasar laut.

Apa yang terjadi di dasar laut?

Semut mengisahkan bahwa di dasar laut tersebut berdiam seekor ulat yang soal rezekinya dipasrahkan untuk semut itu. “Sehari dua kali aku diantar malaikat ke dasar laut guna memberi makanan untuk ulat,” kata semut.

Siapa malaikat itu?” tanya Nabi Sulaiman As.

Ya yang menjelma menjadi katak itu,” jawabnya. Setiap usai menerima kiriman daun hijau dan memakannya, si ulat menyampaikan syukur untuk Allah. “Maha Besar Allah yang menakdirkan aku hidup di dalam laut,” kata ulat.

Setiap berlalu menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak tak sempat memanjatkan rasa syukur untuk Allah SWT, ” Maha Besar Allah yang men-takdir-kan aku hidup di dasar laut “.

Dalam menyelesaikan ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.

” Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rejeki dan rakhmatnya ?”

(Dikutip dari Mutiara Hikmah 1001 kisah:1)

Baca Juga : AMALIAH MEMBUKA HARTA GAIB

Apa tersebut rejeki..??

Secara umum rezeki ialah segala pemberian yang bisa dimanfaatkan, baik material maupun spiritual, dunia maupun akhirat.

Artinya, makanan, pakaian, rumah, kendaraan, kesehatan ialah rezeki dan kecerdasan, ilmu dan hikmah ialah rezeki pula. Orang kaya harta tetapi tak mau membayar zakat dan membantu orang yang kekurangan ialah contoh orang yang kaya rezeki lahiriah tetapi kurang mampu rezeki batiniah.

Orang yang kelemahan makanan dan pakaian, tidak memiliki tempat bermukim dan kendaraan, tubuhnya juga penyakitan namun hatinya tidak jarang kali bersabar, tidak pernah mengeluh bahkan tidak jarang kali taat untuk Allah swt dan bersyukur ialah contoh orang yang kurang mampu rezeki lahiriah namun kaya rezeki batiniah.

Orang yang kaya harta namun tidak bersyukur bahkan bermaksiat untuk Allah Ta’ala ialah contoh orang yang kaya rezeki keduniaan tetapi akan miskin rezeki di akherat nanti.

Kita semua hendak menjadi orang yang kaya rezeki secara lahiriah dan kaya rezeki batiniah, dunia dan akherat. bila pun tidak kaya bercukupan pun telah luar biasa.

Apakah rezeki bisa bertambah..?

Bila anda amati makanan, pakaian, uang, kesehatan, ilmu atau hikmah yang anda peroleh dalam satu bulan saja, maka pastilah anda dapati terjadi peningkatan atau pengurangan. Mungkin di satu sisi terdapat makanan berbagai rupa namun di sisi beda tubuh anda menderita sakit. Atau, uang meningkat tetapi ilmu tidak bertambah.

Dari sudut pandang agama, dengan meneliti dalil-dalil al-Quran dan hadits Nabi saw, saya dan anda bisa menyimpulkan bahwa rezeki seseorang barangkali saja meluas (bertambah) atau malah menyempit (berkurang)

” Allah meluaskan rezeki siapa saja yang Ia kehendaki dan menyempitkan (rezeki siapa saja yng Ia kehendaki)…” (QS.13: 26)

“Dan Allah menyerahkan rezeki untuk siapa yang ia kehendaki tanpa batas.” (QS.24: 38)

“Dan barang siapa yang bertakwa untuk Allah niscaya Ia akan menyelenggarakan baginya solusi (dari kesulitan) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga.”
(QS.65: 2-3)

Abu Hurairah ra meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa suka rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Tsauban ra meriwayatkan, Nabi saw bersabda,” Tidak terdapat yang dapat meningkatkan umur kecuali kebaktian (al-birr) dan tidak terdapat yang dapat menampik takdir (al-qadr) kecuali doa. Seseorang tersebut benar-benar terhalang dari rezeki sebab dosa yang ia perbuat.” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim, al-Hakim berkata: sanadnya sahih)

Baca Juga : BISMILLAH PEMBUKA REJEKI

Lantas semua ulama pun lantas membuat klasifikasi rezeki yang sudah tentu dan rezeki yang mungkin didapatkan manusia melewati perbuatan tertentu. Di antara ulama terdapat yang membagi rezeki menjadi empat macam:

1.Rezeki yang telah dijamin

Ketika janin dalam kandungan berusia 120 hari maka Allah Ta’ala mengutus malaikat guna meniupkan ruh ke janin itu dan mencatatkan empat hal, yaitu: umur, rezeki, tindakan dan suka dukanya.

Rezeki yang disalin ini ialah rezeki yang dipastikan pasti akan diperoleh oleh orang tersebut sebab bersesuaian dengan umurnya. Jika rezeki ini berakhir maka ajal juga tiba, atau andai sudah datang ajal maka rezeki ini juga habis

Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,” Janganlah kalian memandang rezeki datang terlambat sebab seorang hamba tidak bakal mati sampai rezeki yang menjadi haknya hingga kepadanya. Oleh karena tersebut baguskanlah usaha, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”
(HR. Ibnu Hibban, berbicara al-Arnauth: sanadnya sahih menurut keterangan dari kriteria Imam Muslim)

2. Rezeki yang di coba (kasab)

Rezeki jenis ini adalahkarunia Allah (fadhullâh) yang diserahkan kepada siapa yang mencarinya. Allah Ta’ala membuat tangan dengan destinasi tertentu, begitu pula kaki, mata, telinga, mulut dan benak bahkan langit dan bumi.

Jika kita memakai ciptaan-ciptaan tadi cocok tujuan penciptaannya maka tersebut adalahbagian dari ungkapan syukur. Syukur ini tentu mengundang datangnya nikmat. Semakin optimal seseorang mengaktualisasikan potensi yang Allah berikan padanya semakin tidak sedikit pula curahan rezeki terlimpah padanya.

Karena tersebut meminta-minta ialah hal tercela dalam pandangan agama, kecuali untuk orang yang benar-benar miskin, bangkrut usahanya hingga ia dapat bangkit pulang dan orang yang dililit hutang. Selebihnya, orang mesti bekerja menjemput karunia Allah Ta’ala, lagipula jika tubuhnya sehat dan kuat.

3. Rezeki yang dijanjikan

Rejeki jenis ini seringkali dikaitkan dengan sebuah amal tertentu, contohnya sedekah, silaturahmi, niat yang benar, istighfar dan beda sebagainya.

Apalagi rezeki yang akan diterima di akherat nanti paling tergantung dari amal-amal yang telah dilaksanakan oleh seseorang. Point ini yang pada percakapan ke depan bakal diperdalam guna menganalisis amal-amal yang kiranya bisa membuka pintu-pintu rezeki.

4.Rezeki dari arah yang tidak diduga

Rezeki sebetulnya termasuk unsur dari rezeki yang dijanjikan tetapi sebab keistimewaannya maka tidak salah andai dimasukkan dalam unsur tersendiri. Hanya terdapat dua amal yang bisa mengundang datangnya rezeki dari arah yang tidak diperkirakan ini, kesatu yang dilafalkan dalam al-Quran, yaitu: Takwa dan yang kedua yang dilafalkan melalui al-Hadits, yaitu: melanggengkan (dawam) istighfar.

Baca Juga : MEMBUKA REJEKI DENGAN SURAH YASIN

Al-Imam al-Suyûthî (semoga Allah merahmatinya) mencatat tentang cara-cara membuka pintu rezeki menurut hadits-hadits dalam suatu risalah berjudul Hushûl al-Rifq bi ushûl al-Rizq. Beliau membagi menjadi dua kelompok, kumpulan kesatu berupa dzikir-dzikir dan doa, sedangkan kumpulan kedua berupa perbuatan-perbuatan.

Zikir dan Amalan Pembuka Rejeki

I.Kelompok zikir

1. Bacaan kesatu yang tergolong ke dalam 7 zikir pendahuluan pintu rezeki ialah bacaan “LahawlaWala Quwwata Illa billah”. Berdasarkan keterangan dari At-Tabrani, bacaan ini patut dibacakan jika seseorang lambat didatangi oleh rezekinya. Jadi, bilamana Anda sudah berjuang keras akan namun rezeki tak kunjung mendatangi Anda, tidak boleh ragu menyampaikan “LahawlaWala Quwwata Illa billah”. Dengan keyakinan yang tinggi untuk Allah, niscaya rezeki yang dinanti-nanti bakal langsung mendekat Anda.

2. Bacaan kedua yang pun termasuk dalam doa pendahuluan pintu rezeki ialah kalimat “La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin”. Berdasarkan keterangan dari Abu Nu’Aim dan Ad Dailami, seseorang yang menyimak kalimat ini masing-masing hari bakal mendapatkan ketenteraman dari kefakiran serta rasa tenteram di dalam kubur. Jika kita merasa bahwa Anda barangkali akan fobia dalam kubur nanti, ucapkanlah kalimat ini untuk mengenyahkan rasa fobia tersebut. Niscaya ketentraman bakal selalu memenuhi rongga hati Anda.

3. Bacaan ketiga yang tergolong dalam dzikir pendahuluan pintu rezeki ialah kalimat yang nyaris selalu kita sampaikan sehari-hari. Kalimat ini ialah kalimat istighfar. Berdasarkan keterangan dari Ahmad, Ibnu Majjah, dan Abu Daud, dengan istighfar seseorang akan dilepaskan Allah dari segala kesulitan. Di samping itu, Allah pun akan menyerahkan dia rezeki dari arah yang tidak terduga. Jika kita dihampiri oleh kesulitan, banyak-banyaklah beristighfar guna melancarkan rezeki Anda.

4. Bacaan yang pun akan menyebabkan rezeki Anda ialah bacaan dalam Surat Al-Ikhlas. Seseorang yang rajin menyimak Surat Al-Ikhlas menurut keterangan dari At-Tabrani bakal terhindar dari kefakiran dalam penghuni lokasi tinggal maupun tetangganya. Tanpa kefakiran, rezeki pun akan dengan mudah mendekat seseorang yang bersangkutan.

5. Surat beda yang butuh dibaca untuk menyebabkan rezeki pada Anda ialah Surat Al-Waqiah. Berdasarkan keterangan dari Al-Baihaqi, seseorang yang rutin menyimak Surat Al-Waqiah masing-masing malam bakal dijauhkan dari kesempitan hidup. Saat kita merasa hidup memberi beban pada Anda, mulailah menyimak surat Al-Waqiah tiap malam, niscaya beban itu akan perlahan-lahan terlepas dari Anda.

6. Hal yang pun perlu dilaksanakan untuk memperbesar rezeki Anda ialah dengan menggandakan Shalawat Ata Nabi. Berdasarkan riwayat Ubay, bila sudah terlewati sepertiga malam, Rasulullah SAW berdiri sembari berbicara bahwa insan harus berdzikir untuk menilik Allah. Akan datang tiupan sangkakala kiamat kesatu yang dibuntuti dengan tiupan sangkakala kedua. Pada saat tersebut pula bakal datang kematian dan segala kesulitan. Karena itu, seorang Muslim perlu mengerjakan dzikir terus menerus.

7. Bacaan ketujuh yang butuh disebutkan ialah “Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim”. Kalimat tersebut niscaya akan menyerahkan Anda rezeki sebab dari masing-masing kalimat bersangkutan, seorang malaikat bertasbih untuk Allah dan hingga hari kiamat pula pahala diserahkan untuk orang yang mengucapkannya. Hal ini ditetapkan oleh seorang ulama mempunyai nama Al-Mustagfiri.

Baca Juga : DOA FULUS

II.kelompok amalan dan perbuatan

1. Istighfar dan Taubat

“Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari masing-masing dosa hukumnya ialah wajib. Jika maksiat (dosa) tersebut antara hamba dengan Allah, yang tidak terdapat sangkut pautnya dengan hak insan maka kriterianya terdapat tiga:

Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut.
Kedua, ia mesti menyesali tindakan (maksiat)nya.
Ketiga, ia mesti bercita-cita guna tidak mengulanginya lagi.

Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah. Jika taubat itu sehubungan dengan insan maka kriterianya terdapat empat iaitu ketiga-tiga kriteria di atas dan keempat, hendaknya melepaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau semacamnya maka ia mesti mengembalikannya.

Jika berupa had (hukuman) dakwaan atau semacamnya maka ia mesti memberinya peluang untuk membalasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia mesti meminta maaf.”

Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadis mengindikasikan bahawa istighfar dan taubat tergolong sebab-sebab rezeki dengan kurnia Allah . Di bawah ini sejumlah nash dimaksud:

1. Apa yang dilafalkan Allah mengenai Nuh yang berbicara kepada kaumnya :
“Maka aku katakan untuk mereka, ‘Mohonlah ampun untuk Tuhanmu’, bahwasannya Dia ialah Maha Pengampun, nescaya Dia akan mengantarkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan menyelenggarakan untukmu kebun-kebun dan menyelenggarakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Nuh: 10-12).

Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: “Bahawasanya Umar terbit untuk memohon hujan bareng orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari menyampaikan istighfar (memohon ampun untuk Allah) kemudian beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar kita memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan akan turun air hujan.

Lalu beliau menyimak ayat:
“Mohonlah ampun untuk Tuhanmu, bahwasannya Dia ialah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengantarkan hujan kepadamu dengan lebat.” (Nuh: 10-11).

Dan kami menyarankan demikian untuk orang yang merasakan hal yang sama. Dalam riwayat beda disebutkan:
“Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berbicara kepadanya, ‘Banyak orang yang melaporkan bermacam-macam (perkara) dan kamu memerintahkan mereka seluruh untuk beristighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan urusan tersebut dari diriku sendiri.

Tetapi sungguh Allah sudah berfirman dalam surat Nuh:
“Mohonlah ampun untuk Tuhanmu, bahwasannya Dia ialah Maha Pengampun, nescaya Dia akan mengantarkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan menyelenggarakan untukmu kebun-kebun dan menyelenggarakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).

“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun untuk Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepadaNya, nescaya Dia menurunkan hujan yang paling lebat atasmu dan Dia bakal menambahkan kekuatan untuk kekuatanmu dan janganlah anda berpaling dengan melakukan dosa’.” (Hud:52).

2.Taqwa

Para ulama telah menyatakan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan: “Takwa iaitu mengawal jiwa dari tindakan yang membuatnya berdosa, dan tersebut dengan meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan sebahagian yang dihalalkan”.

Beberapa nash yang mengindikasikan bahawa takwa termasuk salah satu sebab rezeki, Di antaranya:
“Barangsiapa yang bertakwa untuk Allah nescaya Dia bakal mengadakan solusi baginya. Dan memberi-nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Dalam ayat di atas, Allah menyatakan bahawa orang yang menerapkan takwa akan dijawab Allah dengan dua hal:
Pertama, “Allah bakal mengadakan solusi baginya.” Ertinya, Allah bakal menyelamatkannya sebagaimana disebutkan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu dari masing-masing kesusahan dunia mahupun akhirat.

Kedua, “Allah bakal memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Ertinya, Allah bakal memberi-nya rezeki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.

“Jikalau sekiranya warga negeri-negeri beriman dan bertakwa, tentulah Kami bakal melimpahkan untuk mereka berkat dari langit dan bumi, namun mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami seksa mereka di-sebabkan tindakan mereka sendiri”. (Al -A’raf: 96).

Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandai-nya warga negeri-negeri menerapkan dua hal, yaitu iman dan takwa, nescaya Allah bakal melapangkan kebajikan (kekayaan) guna mereka dan mempermudah mereka mendapatkannyadari segala arah.

Imam Al-Baghawi berkata, Ia berarti menggarap sesuatu secara terus menerus. Atau laksana kata Imam Al-Khazin, “Tetapnya suatu kebajikan Tuhan atas sesuatu.”

Jadi, yang dapat diputuskan dari arti kalimat ” ” ialah bahawa apa yang diserahkan Allah diakibatkan oleh keimanan dan ketakwaan mereka merupakan kebajikan yang terus menerus, tidak ada kejelekan atau konsekuensi apa juga atas mereka sesudahnya.

Syaikh Ibnu Asyur mengungkapkan urusan tersebut dengan ucapannya: ialah kebaikan yang murni yang tidak terdapat konsekuensinya di akhirat. Dan ini ialah sebaik-baik jenis nikmat.”

“Pastilah Kami bakal melimpahkan untuk mereka sekian banyak berkat.” Ayat ini, sebagaimana dilafalkan Syaikh Ibnu Asyur guna menunjukan banyaknya berkat cocok dengan banyaknya sesuatu yang diberkati.

“Berbagai keberkatan dari langit dan bumi”. Berdasarkan keterangan dari Imam Ar-Razi, maksudnya ialah keberkatan langit dengan turunnya hujan, keberkatan bumi dengan tumbuhnya sekian banyak tanaman dan buah-buahan, banyaknya haiwan ternak dan gembalaan serta diperolehnya ketenteraman dan keselamatan.

Hal ini sebab langit ialah laksana ayah, dan bumi seperti Ibu. Dari keduanya didapatkan semua format manfaat dan kebajikan menurut pembuatan dan pengurusan Allah .”

3.Bertawakkal Kepada Allah

Termasuk salah satu sebab diturunkannya rezeki ialah bertawakkal untuk Allah dan Yang kepadaNya lokasi bergantung.
Para ulama –semoga Allah menjawab mereka dengan sebaik-baik balasan– telah menyatakan makna tawakkal. Di antaranya ialah Imam Al-Ghazali, beliau berkata: “Tawakkal ialah penyandaran hati melulu kepada wakil (yang ditawakkali) semata.”

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Muba-rak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahawa Rasulullah bersabda:

“Sungguh, sekiranya kalian bertawakkal untuk Allah sebenar-benar tawakkal, nescaya kalian bakal diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam suasana lapar, dan kembali petang hari dalam suasana kenyang.”

“Dan barangsiapa bertawakkal untuk Allah, nescaya Allahakan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah mengemban urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah menyelenggarakan ketentuan untuk tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3).

Hakikat yang bahwasannya dalam urusan ini dapat anda katakan, “Sesungguhnya pengaruh bertawakkal tersebut tampak dalam gerak dan usaha hamba saat bekerja untuk menjangkau tujuan-tujuannya”.

Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkata: “Ketahuilah bahwasannya tawakkal tersebut letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah urusan tersebut tidak berlawanan dengan tawakkal yang terdapat di dalam hati sesudah seorang hamba mempercayai bahawa rezeki tersebut datangnya dari Allah. Jika ada kesulitan, maka urusan itu ialah karena taqdirNya, dan andai terdapat fasilitas maka urusan tersebut karena fasilitas dariNya.”

Di antara yang mengindikasikan bahawa tawakkal untuk Allah tidaklah bererti meninggalkan usaha ialah apa diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya , ia berkata:
“Seseorang berbicara kepada Nabi , Aku lepaskan unta-ku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi bersabda: ‘Ikatlah kemudianbertawakkallah’.”

Akhirul kalam.dengan mengabungkan atau memakai kedua urusan di atas maka insya Allah rejeki anda akan tidak jarang kali di luaskan oleh Allah S.W.T…aamiin.

Wasalam

Fathul ahadi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *