Khasiat Dan Keutamaan Surah Alkautsar

surah al kautsarIlmupeletdanpengasihan.com – Surah ini ialah surah yang sangat pendek dalam Al Qur’an, berisi 3 ayat dan diturunkan di Makkah dan berasal dari sungai di Syurga. Kolam sungai ini diperbuat dari pada batu permata yang estetis dan cantik.

Kandungan Surat Al-Kautsar

Ayat kesatu:
“Sesungguhnya Kami telah menyerahkan kepadamu Al-Kautsar.”

Apa tersebut Al-Kautsar? Ada 2 pengartian di kalangan semua ulama berpengalaman tafsir mengenai makna Al-Kautsar:

Pertama, Al-Kautsar ialah sebuah sungai yang sedang di Al-Jannah (surga) yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa persiapkan guna Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam Ibnu Katsir melafalkan sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sempat terkantuk sampai tertidur.

Tiba-tiba Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengusung kepalanya seraya tersenyum, lantas para kawan bertanya untuk beliau, ‘Kenapa anda tersenyum wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya baru saja turun kepadaku suatu surat.” Kemudian beliau membaca, “Bismillahirrahmanirrahim
sampai akhir surat,

lantas beliau berkata, ”Tahukah kalian apa tersebut Al-Kautsar?, semua sahabat membalas “Allah dan Rasul-Nya saja-lah yang lebih tahu”. Maka Rasulullah menjawab, “Dia ialah sebuah sungai yang sedang di Al-Jannah (surga) yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa berikan kepadaku dan padanya terdapat kebajikan yang banyak.” (HR. Al-Imam Ahmad 3/102).

Kedua: Al-Kautsar berarti kebajikan yang paling banyak. Sehingga Al-Kautsar tidak melulu sebatas suatu sungai yang terdapat di Al-Jannah (surga), sebab kebaikan yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa berikan untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam paling banyak, sebagaimana dilafalkan dalam sejumlah surat di Al-Qur`an.

Di antaranya merupakan dengan dipilihnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang nabi dan rasul, bahkan yang terbaik salah satu para nabi dan rasul. Juga dengan diturunkannya Al-Qur`an untuk beliau, satu-satunya dari kalangan nabi dan rasul yang diberi izin oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa untuk menyerahkan syafaat ‘uzhma di padang mahsyar,

orang kesatu yang Allah beri izin guna membuka pintu Al-Jannah (surga), diampuninya dosa beliau yang sudah lalu dan yang bakal datang, dan masih tidak sedikit kebaikan yang lainnya yang tidak terhitung. Sehingga tersebut semua yang dimaksud dengan Al-Kautsar.

Makna yang kedua ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dari kawan Abdullah bin Abbasradhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berbicara tentang arti Al-Kautsar, “Dia (Al-Kautsar) ialah kebaikan-kebaikan yang sudah Allah subhaanahu wa ta’aalaa berikan untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (Shahih al-Bukhari no. 4966)

Pendapat yang kedua ini dikuatkan oleh al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dan beliau tegaskan dalam buku tafsirnya, ”Tafsir ini (tafsir Ibnu Abbas mengenai Al-Kautsar) meliputi tidak sedikit hal bahkan tergolong sungai yang sedang di Al-Jannah (surga) dan yang lainnya, disebabkan Al-Kautsar tersebut sebuah kata yang berasal dari kata al-katsrah (sesuatu yang tidak sedikit kuantitasnya) sampai-sampai makna Al-Kautsar ialah kebaikan-kebaikan yang banyak. (Tafsir Ibnu Katsir) Wallahu a’lam.

Sifat Sungai Al-Kautsar

Banyak hadits yang menyatakan tentang sifat dan ciri-ciri sungai Al-Kautsar. Salah satunya ialah hadits dari kawan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang mengandung berita mengenai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa isra` dan mi’raj sesungguhnya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku berjalan-jalan mengelilingi Al-Jannah (surga) ditampakkan kepadaku suatu sungai yang kedua tepinya ada bangunan-bangunan kubah yang tercipta dari intan berlian,

lantas seorang malaikat yang bareng beliau mengatakan untuk beliau, “Tahukah anda (Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam) apa yang sedang anda saksikan ini? Inilah Al-Kautsar yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa sudah persiapkan untukmu.” (Tafsir ath-Thabari 30/208)

Inilah sekilas sifat sungai Al-Kautsar yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa siapkan guna Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam di Al-Jannah (surga). Setelah Allah subhaanahu wa ta’aalaa melafalkan nikmat tersebut lantas Allah perintahkan Nabi-Nya guna bersyukur dalam ayat yang berikutnya.

Ayat Kedua:

“Maka dirikanlah shalat sebab Rabb-mu; dan berkurbanlah.”

Ada dua ibadah yang diperintahkan dalam ayat ke 2 ini, yakni ibadah shalat dan kurban. Maka shalatlah guna Rabb-mu satu-satunya, ikhlaskan niat, bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakannya dan sembelihlah fauna kurbanmu, baik berupa onta, sapi ataupun kambing, semuanya mesti di berikan dan dipersembahkan melulu untuk Allah subhaanahu wa ta’aalaa satu-satunya.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy rahimahullah berkata, “Disebutkan secara eksklusif dua ibadah dalam ayat ini, dikarenakan dua-duanya (shalat dan kurban) adalahibadah yang sangat utama dan sangat mulia guna mendekatkan diri untuk Allah subhaanahu wa ta’aalaa.

Dalam shalat terdapat ketundukan hati dan tindakan untuk Allah subhaanahu wa ta’aalaa, dan dalam ibadah kurban merupakan format mendekatkan diri untuk Allah subhaanahu wa ta’aalaa dengan sesuatu yang terbaik dari apa yang dipunyai oleh seorang hamba berupa fauna kurban. (Tafsir as-Sa’diy hal. 936)

Hubungan Ayat Kedua dengan Ayat Pertama

Hubungan ayat kedua ini dengan ayat kesatu ialah bimbingan guna bersyukur untuk yang diberi nikmat yakni Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk sang pemberi nikmat yakni Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Demikian pula pada dua ayat itu terdapat keterangan bagaimana semestinya mensyukuri nikmat, yakni tidak melulu dengan perkataan saja, tetapi pun dengan amalan ibadah yang berhubungan dengan anggota badan kita.

Arti syukur ialah nampaknya pengaruh nikmat Allah subhaanahu wa ta’aalaa atas seorang hamba melewati lisannya dengan teknik memuji dan mengakuinya; melewati hati dengan teknik meyakininya dan cinta; serta melewati anggota badan dengan sarat ketundukan dan ketaatan. (Lihat Madarijus Salikin, 2/244)

Apabila seorang hamba memahami sebuah nikmat maka dia akan memahami yang memberi nikmat. Ketika seseorang memahami yang memberi nikmat pasti dia bakal mencintai-Nya dan terdorong guna bersungguh-sungguh mensyukuri nikmat-Nya. (Madarijus Salikin 2/247)

Para pembaca yang diagungkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa, ketahuilah bahwa ibadah-ibadah yang anda amalkan ataupun segala sesuatu yang anda persembahkan guna Allah subhaanahu wa ta’aalaatidaklah seimbang dengan apa yang sudah Allah subhaanahu wa ta’aalaa berikan untuk kita berupa nikmat-nikmat yang begitu banyak. Sepanjang hari kita terbenam dalam kesenangan yang Allahsubhaanahu wa ta’aalaa berikan.

Setiap ketika kita merasakan sekian banyak nikmat kemudian berpindah kepada nikmat yang lain. Bahkan terkadang anda tidak membayangkan sebelumnya bakal terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan tidak sedikit nikmat-nikmat tersebut sampai tidak dapat untuk diberi batas atau dihitung dengan perangkat secanggih apapun di masa kini. Semua ini tentunya mengindikasikan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah subhaanahu wa ta’aalaa untuk hamba-hamba-Nya.

Faedah Hukum yang Terkandung dalam Ayat Kedua

Dalam ayat kedua ini ada dalil urgen yang berhubungan dengan hukum dan tata teknik dalam ibadah kurban bahwa proses pengamalan ibadah kurban itu dilaksanakan setelah shalat Idul Adha, bukan sebelum shalat. Kesimpulan ini disaksikan dari ayat yang kedua:

“Maka dirikanlah shalat sebab Rabb-mu; dan berkurbanlah,” dinamakan shalat terlebih dahulu baru lantas menyembelih fauna kurban. Karena andai ibadah kurban itu dilaksanakan sebelum shalat maka posisi dia bukan sebagai fauna kurban, dagingnya bukan daging kurban akan namun terhitung sebagai daging sedekah biasa. Hal ini pernah terjadi di masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika salah seorang kawan yakni Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu menyembelih fauna kurbannya sebelum shalat Idul Adha,

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Kambingmu ialah kambing guna (diambil) dagingnya saja.” (HR. al-Bukhari no.5556 dari al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu). Dalam lafazh beda (no.5560) disebutkan, “Barangsiapa yang menyembelih (sebelum shalat Idul Adha), maka tersebut hanyalah daging yang dia persembahkan guna keluarganya, bukan termasuk fauna qurban tidak banyak pun.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda dalam khotbah Idul Adha, “Barangsiapa menggarap shalat laksana shalat kami dan menyembelih fauna kurban laksana kami, maka sudah benar kurbannya. Dan barangsiapa menyembelih sebelum shalat (Idul Adha) maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain.” (HR. al-Bukhari no. 5563 dan Muslim no. 1553)

Ayat Ketiga:
“Sesungguhnya orang yang membencimu dialah orang yang terputus.”

Diriwayatkan dari kawan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa arti dari ayat diatas merupakan
1. “Sesungguhnya musuhmu.”
2. “Sesungguhnya orang yang membencimu. (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam )”(Tafsir ath-Thabari hal. 602)

Disebutkan oleh al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah bahwa salah seorang ahlul buku yang mempunyai nama Ka’ab bin al-Asyraf saat datang ke kota Mekah dan bertemu dengan kaum Quraisy,

kemudian mereka mengatakan untuk Ka’ab bin al-Asyraf, “Bagaimana menurutmu wahai Ka’ab mengenai orang yang tidak mempunyai keturunan lagi, memutus hubungan dengan kaumnya (yaitu Muhammad) dan memandang dirinya lebih baik dari kami, sebenarnya kami ialah kaum yang senantiasa berhaji, berkhidmat mengawal Ka’bah dan melayani serta memberi minum untuk jamaah haji?

Kemudian Ka’ab bin al-Asyraf menyatakan, “Kalian lebih mulia dikomparasikan dia (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam).” Setelah pengakuan tersebut turunlah ayat Terputus dalam artian terputus dari masing-masing kebaikan, amalan, sanjungan.

Adapun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadi insan yang sangat sempurna dan memiliki status di sisi semua makhluk, berupa tingginya pujian kepadanya, banyaknya pembela dan pengikutnya shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir as-Sa’di hal. 936)

Para pembaca yang semoga senantiasa dirahmati Allah subhaanahu wa ta’aalaa, mudah-mudahan dengan kita memahami tafsir surat Al-Kautsar ini akan meningkatkan pengetahuan kita mengenai Al-Qur`an sampai-sampai menjadi pendorong untuk kita guna semakin dekat dengan Allah subhaanahu wa ta’aalaa, semakin fobia akan adzab dan siksa-Nya.

Surah ini disifatkan sebagai surah penghibur hati Nabi Muhammad SAW, sebab diturunkan saat baginda berduka atas kematian 2 orang yang dikasihinya, yakni anak lelakinya Ibrahim dan bapak saudaranya Abu Thalib.

Khasiat Dan Keutamaan Surah Al kautsar

1. Ketika hujan, bacalah surah ini dan berdo’a. Insya Allah, do’a anda dikabulkan oleh Allah SWT

2. Ketika anda kehausan dan tiada air, bacalah surah ini dan gosok di leher. Insya Allah hilangkan rasa dahaga.

3. Ketika kita tidak jarang sakit mata, laksana berair, gatal, bengkak. Sapukan air tawar yang sudah diucapkan surah ini sejumlah 10x pada mata.

4. Ketika rumah diyakini terkena sihir, bacalah surah ini10x. Insya Allah, Allah SWT memberi inspirasi kepada anda dimana letaknya sihir itu.

5. Jika kita menyimak surah ini 1.000x. Insya Allah rezeki anda akan bertambah.

6. Jika anda rajin menyimak surah ini. Insya Allah hati anda akan menjadi lembut dan khusyuk saat menunaikan shalat.

7. Jika terdapat orang teraniaya dan terpenjara, bacalah surah ini sejumlah 71x. Insya Allah, Allah SWT bakal memberikan pertolongan kepadanya sebab dia tidak bersalah namun dizhalimi.

8. Sesiapa menyimak Surah Al-Kautsar, maka Allah bakal memberinya minuman dari sungai di syurga.

9. Membacanya sejumlah 7 kali pada waktu berkeinginan tidur, maka Allah membangunkannya pada masa-masa dan jam berapa yang dikehendaki.

10. Siapa yang membacanya 7 kali saat dalam ketakutan di mana saja berada, akan dibentengi Allah kebajikannya.

Sekian dulu dari saya,semoga ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
bagi kamu yang merasa mempunyai sejumlah masalah dalam kehidupan kamu bisa melihat

Doa Pelindung,Doa pengasihan,doa penyembuh dan pendahuluan rejeki yang diserahkan dengan ijazah eksklusif dapat kamu lihat di Pesan Amalan

Wasalam

Fathul ahadi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *