Doa dari Nabi Nuh as

doa nabi nuhKetika orang beriman berdoa, ia tahu bahwa Allah mendengarnya dan akan menerima do’anya kapan pun. Ini sebab ia menyadari bahwa sesuatu tidak terjadi secara kebetulan, namun menurut atas peraturan yang ditentukan oleh Allah dan sebagaimana yang diinginkan-Nya.

Bagi itu, ia tak mempunyai keraguan bahwa ia tidak bakal mendapatkan pulang do’anya. Berdo’a dengan jiwa yang tulus menghasilkan kebaikan. Dalam satu ayat, urusan itu ditunjukkan bahwa Tuhan kami akan menerima do’a sebagai pengejawantahan dari nama “Al-Mujib” (Ia yang menerima permintaan dari mereka yang meminta pada-Nya).

“ Dan bilamana hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku. Maka (jawablah) sesungguhnya Aku ialah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a kalau ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka tersebut memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka berada dalam kebenaran..” (Surat al-Baqarah, 186).

Alasan bahwa sesuatu yang diminta dalam do’a ditunda, atau diterima dengan teknik yang berbeda, dapat pun adalah ujian Tuhan untuk hamba-Nya. Allah menyerahkan berkah-Nya setelah waktu tertentu untuk lantas diuji kesabaran hamba-Nya dan untuk menciptakan mereka sabar dengan dalil dan sebab tertentu.

Berdasarkan dalil serupa, ia tak dapat diperkirakan bahwa masing-masing do’a terwujud seperti ketika ia diminta dan sesegera mungkin. Seperti apa yang diutarakan oleh cendikiawan Islam Bediuzzaman, Allah mungkin menyerahkan sedikit dari sesuatu yang diminta dalam do’a atau sesuatu yang lebih dari yang dihadiahkan karena dalil tersebut yang dinamakan di atas. Ia barangkali tidak mengabulkannya sama sekali. Akan tetapi, pada masing-masing kondisi, Allah menerima do’a dari mereka yang berdo’a kepada-Nya.

Do’a Nabi Nuh as

Kesabaran dari nabi Nuh (as) yang menyerukan umatnya untuk agama yang baik selama sejumlah tahun dengan kesungguhan, dipuji dalam Al-Qur’an. Nabi Nuh (as) berusaha melawan umatnya yang beraksi dengan memusuhinya dan orang-orang beriman yang bersamanya. Faktanya ialah nabi Nuh berpulang pada Allah WT dalam sekian banyak situasi, dan berdo’a dengan menginginkan bantuan-Nya secara tulus merupakan misal yang baik untuk orang beriman. Dalam satu ayat, tampak bahwa Allah mengetahui situasi dari Nabi nuh (as), bahwa ia berdo’a sebagai berikut:

“Maka ia Mengadu untuk Tuhannya: “bahwasannya aku ini ialah orang yang dikalahkan, oleh sebab tersebut tolonglah (aku)”
(Q.S Al-Qamar : 10).

Allah menerima do’a nabi Nuh (as) dan memerintahkannya supaya bersiap-siap menghadapi banjir, yang bakal terjadi di masa depan. Nabi Nuh (as) mulai membina kapal yang paling besar atas perintah Allah, meskipun tidak terdapat laut ataupun telaga di sekitarnya. Dalam masa pembangunan kapal tersebut, ia secara terus-menerus menjadi pihak yang diejek oleh umatnya. Pada ketika tiba waktunya, janji Allah SWT terwujud dan banjir itu terjadi.
Do’a Nabi Nuh AS

“Ya Tuhan-ku, janganlah Engkau Biarkan seorang pun salah satu orang-orang kafir tersebut tinggal di atas bumi”.
Sesungguhnya andai Engkau Biarkan mereka tinggal, niscaya mereka bakal menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka melulu akan mencetuskan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.

Ya Tuhan-ku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa juga yang menginjak rumahku dengan beriman dan seluruh orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau Tambahkan untuk orang-orang yang zalim tersebut di samping kehancuran.” Surat Nuh: 26-28
Tafsir:

Dan berkatalah Nuh, Rabbi, janganlah Engkau membiarkan salah satu orang-orang kafir tersebut tinggal di atas bumi.
Wa qāla nūhun (dan berkatalah Nuh) sesudah Rabb-nya Berfirman untuk dia, … sekali-kali tidak bakal beriman salah satu kaummu kecuali orang-orang yang sudah beriman tersebut …. (Q.S. 11 Hud: 36).
Rabbi (Rabbi), yaitu ya Tuhan-ku.

Lā tadzar ‘alal ardli minal kāfirīna dayyārā (janganlah Engkau membiarkan salah satu orang-orang kafir tersebut tinggal di atas bumi) seorang pun.Sesungguhnya andai Engkau Membiarkan mereka, niscaya mereka bakal menyesatkan Hamba-hamba Engkau. Dan mereka tidak akan mencetuskan kecuali orang yang durhaka lagi paling kafir.

Innaka iη tadzarhum yudlillū ‘ibādaka (sesungguhnya andai Engkau Membiarkan mereka, niscaya mereka bakal menyesatkan Hamba-hamba Engkau), yaitu menyesatkan orang-orang yang sudah beriman untuk Engkau dan orang-orang yang berkeinginan beriman untuk Engkau.
Wa lā yalidū (dan mereka tidak bakal melahirkan), yaitu dan tak bakal lahir dari mereka ….

Illā fājirang kaffārā (kecuali orang yang durhaka lagi paling kafir), yaitu kecuali orang-orang yang durhaka dan kafir saat mereka dewasa. Berdasarkan keterangan dari satu pendapat, kecuali orang-orang yang sudah Engkau Takdirkan berada dalam kekafiran dan kedurhakaan saat mereka dewasa. Dan terdapat pula yang berpendapat, salah satu mereka tidak ada seorang anak-anak pun,

karena Allah Ta‘ala sudah Menghalangi mereka mempunyai anak sekitar empat puluh tahun. Sehingga salah satu mereka melulu ada orang-orang dewasa saja. Selama empat puluh tahun tak terdapat (seorang ibu pun) yang mencetuskan anak salah satu mereka. Mereka semua ialah orang-orang dewasa yang durhaka lagi paling kafir.

Ya Tuhan-ku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan seluruh orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan untuk orang-orang yang zalim tersebut di samping kebinasaan.

Rabbi (Rabbi), yaitu ya Tuhan-ku.

Ighfir lī wa li wālidayya (ampunilah aku dan ibu-bapakku), yaitu bapak-bapakku yang beriman.
Wa li maη dakhala baitiya (serta orang-orang yang masuk ke dalam rumahku), yaitu ke dalam agamaku.
Mu’minaw wa lil mu’minīna (dengan beriman, dan kaum Mukminin), yaitu orang-orang yang membetulkan dari kaum laki-laki.

Wal mu’mināt (dan kaum Mukminah), yaitu kaum wanita yang membetulkan dengan jalan beriman, yakni orang-orang yang bakal ada sesudahku.

Wa lā tazidizh zhālimīna (dan janganlah Engkau menambahkan untuk orang-orang zalim itu), yakni untuk orang-orang kafir dan orang-orang musyrik.

Illā tabārā (di samping kebinasaan), yaitu di samping kerugian dan kehancuran, sebagaimana meruginya orang-orang yang telah dikatakan wahyu untuk nabi mereka, namun mereka tidak inginkan mengimaninya.

Berdo’a adalahhubungan yang urgen dengan Allah Yang Maha Besar, hal dibutuhkan guna menunjukkan kekurangan kita di hadapan Allah. Tuhan kita mengindikasikan bahwa do’a adalahtindakan yang urgen atas format penyembahan kepada-Nya menurut ayat “Katakanlah: Tetapi bagaimana anda beribadat kepada-Nya, padahal anda sungguh mendustakan-Nya “(Surat al-Furqan, 77).

Sebenarnya, keperluan untuk menjalin hubungan dengan Allah terdapat pada masing-masing karakter manusia, adalahsyarat penciptaan. Akan tetapi, di beda hal berdo’a adalahhal yang tidak terpisahkan dari kehidupan untuk orang beriman,

tetapi untuk sejumlah orang urusan tersebut merupakan format tindakan penyembahan yang melulu perlu dikenang di masa-masa mereka berhadapan dengan kendala atau kondisi yang membahayakan kehidupan mereka. Hal ini merupakan kekeliruan besar sebab yang sangat baik ialah memohon untuk Allah Yang Maha Besar pada kedua situasi tersebut, baik dalam kendala dan fasilitas untuk memohon ampunan-Nya.Wallahu a’alam

Sekian dulu dari saya,semoga ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *