5 Pintu Pintu Rejeki

pintu rejekiilmupeletdanpengasihan.com – Seperti yang anda ketahui bareng bahwa Allah telah memastikan rejeki seseorang dan diserahkan melalui pintu pintu rejeki,semakin tidak sedikit kita menginjak pintu pintu rejeki itu maka semakin tidak sedikit rezeki yang bakal di karuniakan Allah untuk kita.

Sumber rezeki sangatlah luas dan dalam. Seluas bentangan bumi dan kedalaman samudra. Sungguh, di masing-masing jengkal hamparan bumi dan laut ada rezeki yang dapat dikais. Permasalahannya, sering kali insan lebih berorientasi menantikan rezeki daripada menjemputnya.

Karena itu, Islam menekankan masing-masing Muslim supaya dalam menggali rezeki mengguna kan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya.dengan tidak melupakan dua hal urgen :

Pertama, rezeki yang didapatkan ialah yang baik.

“Hai, orang-orang yang beriman, makanlah salah satu rezeki yang baik-baik yang Kami berikan untuk kalian” (QS Al-Baqarah 2: 127)
Terkait ayat di atas, Ahmad Musthafa Al-Maraghi mengaku betapa pentingnya seorang Muslim mengonsumsi makanan yang halal, bersih, dan lurus.

Halal maksudnya ialah tidak berisi kedurhakaan terhadap Allah SWT. Bersih bermakna tidak berisi perkara yang melupakan Allah. Sedangkan, lurus berarti rezeki tersebut dapat menahan nafsu dan merawat akal.

Kedua, guna mendapatkan rezeki yang baik, dan memakai cara-cara yang baik pula.

Islam tidak mengizinkan segala format upaya menemukan rezeki dengan cara-cara yang zalim

Mengapa Islam menekankan pentingnya rezeki yang halal?Karena, masing-masing asupan yang masuk ke dalam tubuh insan akan memengaruhinya, baik secara fisik, emosional, psikologis, maupun spiritual.

Rezeki yang halal menghadirkan ketenangan jiwa. Hidup bakal lebih terarah dan menjadikan pintu-pintu keberkahan tersingkap semakin lebar.

Di samping itu, rezeki yang halal adalahsyarat diterimanya masing-masing doa oleh Allah SWT. Rezeki yang halal akan membuat tatanan mayarakat dan bangsa yang kuat.

5 Pintu Pintu Utama Rezeki

Membuka pintu rejeki dengan teknik syar’I sangat disarankan dalam Islam, sebab pada hakikaknya seluruh rejeki yang saya dan anda bisa tersebut datang dan berasal melulu dari Allah SWT. Oleh karenanya anda dilarang menggali rejeki dengan jalan haram. Seperti datang ke Dukun, minta pertolongan jin dll.

Allah SWT menyuruh kita guna membuka rejeki-rejeki itu dengan jalan yang telah dijelaskan baik dalam Al Quran atau Hadits. Dan sebagai berikut sebagian pintu pintu rejeki :

1.Pintu Istigfar
Diantara karena terpenting diturunkannya rizki ialah istighfar (memohon ampunan) dan taubat untuk Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan).

Sebagian besar orang menduga bahwa istighfar dan taubat hanyalah lumayan dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan,
“Aku memohon ampunan untuk Allah dan bertaubat kepada-Nya”
Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak meninggalkan bekas di dalam hati, pun tidak dominan dalam tindakan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini ialah perbuatan orang-orang dusta.
Para ulama – semoga Allah memberi balasan yang se-baik-baiknya untuk mereka telah menyatakan hakikat istighfar dan taubat.

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: “Dalam istilah syara’, taubat ialah meninggalkan dosa sebab ke-burukannya, menyesali dosa yang sudah dilakukan, bercita-cita kuat guna tidak mengulanginya dan berjuang mela-kukan apa yang dapat diulangi (diganti). Jika keempat urusan tersebut telah terpenuhi berarti kriteria taubatnya sudah sempurna”

Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menje-laskan: “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari masing-masing dosa hukumnya ialah wajib. Jika maksiat (dosa) tersebut antara hamba dengan Allah, yang tidak terdapat sangkut pautnya dengan hak insan maka kriterianya terdapat tiga.

Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia mesti menyesali per-buatan (maksiat)nya. Ketiga, ia mesti bercita-cita guna tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.

Jika taubat itu sehubungan dengan insan maka kriterianya terdapat empat. Ketiga kriteria di atas dan keempat, hendaknya ia melepaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika ber-bentuk harta benda atau semacamnya maka ia mesti mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) dakwaan atau seje-nisnya maka ia mesti memberinya peluang untuk mem-balasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia mesti meminta maaf.”

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa menggandakan istighfar (mohon ampun untuk Allah), niscaya Allah menjadikan untuk masing-masing kesedihannya solusi dan untuk masing-masing kesempitan-nya kelapangan dan Allah bakal memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka”.

Karena itu, untuk orang yang menginginkan rizki hen-daklah ia bersegera untuk menggandakan istighfar (memohon ampun), baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Dan hendaknya masing-masing muslim waspada, sekali lagi hendaknya waspada, dari mengerjakan istighfar melulu sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab itu ialah pekerjaan semua pendusta.

2. Pintu Taqwa
Termasuk di antara pintu rejeki,hal ini dapat dilihat dari sejumlah penjelasan

Para ulama Rahimahullaah telah menyatakan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan: “Taqwa yaitu mengawal jiwa dari tindakan yang membuatnya berdosa, dan tersebut dengan meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan beberapa yang dihalalkan”.

Sedangkan Imam An-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan “Mentaati perintah dan laranganNya.” Maksudnya, mengawal diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhannahu wa Ta’ala .

Hal tersebut sebagaimana didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani “Taqwa yaitu mengawal diri dari kegiatan yang menyebabkan siksa, baik dengan mengerjakan perbuatan atau meninggalkannya.”

Karena itu, siapa yang tidak mengawal dirinya, dari tindakan dosa, berarti dia bukanlah orang bertaqwa. Maka orang yang menyaksikan dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah, atau memperhatikan dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Allah, atau memungut dengan kedua tangannya apa yang tidak diridhai Allah, atau berlangsung ke lokasi yang dikutuk Allah, berarti tidak mengawal dirinya dari dosa.

Beberapa nash yang mengindikasikan bahwa taqwa terma-suk salah satu sebab rizki, Di antaranya:

Firman Allah:

“Barangsiapa yang bertaqwa untuk Allah niscaya Dia bakal mengadakan solusi baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Dalam ayat di atas, Allah menyatakan bahwa orang yang menerapkan taqwa akan dijawab Allah dengan dua hal

Pertama, “Allah bakal mengadakan solusi baginya.” Artinya, Allah bakal menyelamatkannya –sebagaimana dika-takan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu – dari masing-masing kesusahan dunia maupun akhirat.

Kedua, “Allah bakal memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Artinya, Allah bakal memberi-nya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa untuk Allah dengan mengerjakan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah bakal memberinya solusi serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yaitu dari arah yang tidak pernah terbersit dalam benaknya,”

3. Pintu Tawakal
Termasuk salah satu pintu rizki ialah bertawakkal untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala dan kepadaNya lokasi bergantung.
Yang Dimaksud Bertawakkal untuk Allah

Para ulama-semoga Allah menjawab mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menyatakan makna tawakkal. Di antaranya ialah Imam Al-Ghazali, beliau berkata: “Tawakkal ialah penyandaran hati melulu kepada wakil (yang ditawakkali) semata.”

Al-Allamah Al-Manawi berkata: “Tawakkal ialah menampakkan kekurangan serta penyandaran (diri) untuk yang di tawakkali.”
Menjelaskan arti tawakkal untuk Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qori berkata: “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak terdapat yang melakukan dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa masing-masing yang ada, baik makhluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala urusan yang dinamakan sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu ialah dari Allah.”

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Muba-rak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khatab Radhiallaahu anhu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

“Sungguh, sekiranya kalian bertawakkal untuk Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian bakal diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam suasana lapar, dan kembali sore hari dalam suasana kenyang.”

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa bertawakkal untuk Allah, niscaya Allah bakal mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah mengemban urusan (yang dikehendaki)Nya. Se-sungguhnya Allah telah menyelenggarakan ketentuan untuk tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3).

Di antara yang mengindikasikan bahwa tawakkal untuk Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiallaahu anhu , ia berkata:

Dan dalam riwayat Al-Qudha’i disebutkan:
“Amr bin Umayah t berkata: ‘Aku bertanya,’Wahai Rasulullah, Apakah aku ikat dahulu (tunggangan)ku kemudian aku bertawakkal untuk Allah, atau aku lepaskan begitu saja kemudian aku bertawakkal?’ Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaran (unta) mu kemudian bertawakkallah’.”

Kesimpulan dari ulasan ini ialah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh masing-masing muslim mesti bersungguh-sungguh dan berjuang untuk menemukan penghidupan. Hanya saja ia jangan menyandarkan diri pada banting tulang dan usahanya, namun ia mesti mempercayai bahwa segala urusan ialah milik Allah, dan bahwa rizki tersebut hanyalah dari Dia semata

4. Pintu Silatur rahim
Di antara pintu-pintu rizki ialah menjaga tali silaturrahim.
Makna ‘ar-rahim’ ialah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:‘Ar-rahim secara umum ialah dimaksud-kan untuk semua kerabat dekat. Antara mereka ada garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak.”

Beberapa hadits dan atsar mengindikasikan bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala menjadikan silaturrahim termasuk salah satu pintu pintu rizki. Di antara hadits-hadits dan atsar-atsar tersebut adalah:

1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

“Siapa yang hendak dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hen-daknyalah ia menyambung tali silaturrahim.”
Dalam hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan meningkatnya usia.

Dalil lain ialah riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar Radhiallaahu anhu ia berkata:

“Barangsiapa bertaqwa untuk Tuhannya dan menyam-bung silaturrahim, niscaya dipanjangkan umurnya dan dibanyakkan rizkinya dan disukai oleh keluarganya.”

Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam ber-kembangnya harta benda dan menjauhkan kemiskinan, sam-pai-sampai berpengalaman maksiat pun, diakibatkan oleh silaturrahim, harta mereka dapat berkembang, semakin tidak sedikit jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, sebab karunia Allah Subhannahu wa Ta’ala .

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam sesungguhnya beliau bersabda:

“Sesungguhnya keta’atan yang sangat disegerakan pahalanya ialah silaturrahim. Bahkan sampai suatu family yang berpengalaman maskiat pun, harta mereka dapat berkembang dan jumlah mereka bertambah tidak sedikit jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada sebuah keluarga yang saling bersilaturrahim lantas mereka memerlukan (kekurangan).

5. Pintu Sedekah Pintu infaq dan sedekah
Salah satu pintu utama rezeki ialah pintu infaq dan sedekah
Sangat bahagia sekali tentunya untuk kita selaku manusia andai mendapatkan rezeki yang membludak ruah, dan dari jalan yang tidak disangka-sangka. Namun pada kenyataannya urusan demikian andai kita fikir secara logika sangatlah jarang terjadi bahkan justeru sangat tidak mungkin.

Bagaimana tidak? Untuk kaum materialistis, mereka yang berpikir bahwa dunia tidak bakal datang dengan sendirinya kecuali anda menjemputnya.

Sungguh mereka tidak menyadari bahwa semuanya sudah Allah subhanahuwata’ala berikan dan telah ditata sedemikian rupa. Allah lah yang menyerahkan rezeki untuk seluruh makhluk-makhlukNYa, baik manusia, tumbuh-tumbuhan bahkan fauna terkecilpun sudah Allah tetapkan rezeki untuk masing-masing tanpa terdapat setitik kesalahanpun.

Lalu mengapa kita mesti saling berebut andai kita percaya dan beriman untuk NYA bahwa rezeki anda sekali-kali tidak bakal pernah dipungut ataupun tertukar oleh orang lain?

Sadarkah anda dengan ayat Al Quran surat Al Baqarah 261 berikut:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ialah serupa dengan sebutir embrio yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) untuk siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Dan dalam suatu hadist Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan/melipatkan satu kebajikan dari ibn adam menjadi sepuluh kali hingga tujuh ratuh kali lipatan. Kecuali puasa, dan puasa itu melulu untuk Allah, dan Allah sendirilah yang bakal membalasnya. Dan untuk orang yang berpuasa bakal mendapat dua kebahagiaan: yakni kebahagiaan disaat berbuka dan kebahagiaan besok dihari akhir. Dan bau mulutnya orang yang berpuasa tersebut lebih wangi disisi Allah disbanding dengan bau harumnya misk”

Uang yang anda sedekahkan dijalan Allah dengan (ikhlas dan tidak riya) yang melulu kecil dimata manusia, namun tersebut sangat besar di sisi Allah SWT, namun banyak sekali dari kita tidak cukup menyadari akan kehebatan sodaqoh tersebut. Sangat jarang sekali kita menyaksikan orang yang mendermakan hartanya untuk kebajikan umat ini, dan meskipun anda melihatnya sering pula mereka menginfaqkan dan menyedekahkan harta itu lantaran melulu untuk disaksikan oleh sesame manusia..

Allah berfirman dalam Al Quran disurat Al Baqarah 264:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah anda menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), laksana orang yang menafkahkan hartanya Karena riya untuk manusia dan dia tidak beriman untuk Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang tersebut seperti batu licin yang di atasnya terdapat tanah, Kemudian batu tersebut ditimpa hujan lebat, kemudian menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk untuk orang-orang yang kafir”

Mereka Ini tidak mendapat guna di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.

Sekian dulu dari saya,semoga ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
bagi kamu yang merasa mempunyai sejumlah masalah dalam kehidupan kamu bisa melihat

Doa Pelindung,Doa pengasihan,doa penyembuh dan pendahuluan rejeki yang diserahkan dengan ijazah eksklusif dapat kamu lihat di halaman pesan amalan

Dengan asa dari sekian tidak sedikit jenis doa yang saya ijazahkan secara eksklusif ada yang cocok dengan masalah anda…amiin

Wasalam

Fathul ahadi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *